KASIH YANG TAK SAMPAI
Aku hanya manusia biasa yang dapat mencintai seseorang, namun kini sirna sudah harapanku begitu mengetahui semuanya yang telah terjadi. Cukup melihat ia bahagia meskipun bukan dengan ku. Melihat ia dari kejauhan membuatku bernafas lega.
Tiba saatnya jam istirahat, yang paling ditunggu-tunggu oleh semua murid 2IPA2 semua murid menghembuskan napas lega, dalam sekejap segala macam teori Newton dalam gravitasi terlupakan. Kumpulan rumus Trigonometri pun serta merta menguap dari daya ingat. Sekarang kan waktu nya istirahat gitu loh ..
“diem ajah neng daritadi, kenape lo ?” cerocos Lia, dia yang sedari tadi aneh melihat tingkah laku ku.
“ha ??ngagetin aja lo, kaga papa kok gue” jawabku sekenanya, sebenarnya memang ada yang mengganjal hatiku sehingga aku menjadi seperti ini, yah siapa lagi klo bukan ‘dia’ seorang cowok yang menarik perhatian ku akhir-akhir ini.
“kantin yuk,” ajak Lia kemudian.
“wookkeeyy” jawabku kemudian dengan senang hati, siapa tahu ketemu ‘dia’ nanti ditengah perjalanan menuju kantin, seru ku dalam hati.
Ternyata benar dugaan ku dalam hati, aku bertemu ‘dia’ ditengah perjalananku menuju kantin. Oh Em Ji, dia ganteng banget, meskipun hanya diriku yang menyebutnya dia ganteng. Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri saat berpapasan dengannya tadi, dan itu juga yang membuat Lia terheran-heran melihatku.
“kenape lo ?kesurupan ?” tanyanya heran.
“ha ?” tanyaku kaget.
“aa-hong, lo kenape senyum-senyum sendiri gitu?”
Oh No !! ternyata ‘dia’ menyihir ku, sampai-sampai gila aku di buatnya. Lia memang belum tahu kalau aku naksir ‘dia’, bukan naksir Lia maksudnya.
“Li, menurut lo dia gimana ?” Tanya ku setelah panjang lebar aku bercerita ke Lia kalau aku menyukai lelaki tampan itu.
“lo suka sama dia ?” Tanya Lia heran.
“heeemm, menurut lo gimana ?”
“apanya yang gimana ?” jawab Lia bingung.
Lia tuh ‘lola’ juga kadang-kadang aku juga jadi bingung kalau ngomong sama dia.
“gatau bingung gue juga” kataku asal.
Lalu percakapan kita pun berakhir karena guru Kimia kita pun datang, yang dengan tiba-tiba langsung memberikan ancang-ancang untuk ulangan harian mendadak, dan langsung di sambut ricuh dengan anak-anak sekelas.
*
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, murid-murid langsung berhamburan keluar, dengan tampang bahagia karena telah selesai mengerjakan soal ulangan kimia dengan cara bermusyawarah alias kerja sama.
Aku yang kebingungan mencari-cari Lia untuk pulang bareng tiba-tiba aku bertabrakan dengan seseorang yang bertubuh besar atletis, dan ketika aku melihat nya, ternyata oh ternyata itu si ‘dia’.
“eh, maaf maaf ya, gue engga sengaja” katanya.
“oh iya ga apa-apa ko” jawabku tersipu malu.
Lalu percakapan minta maaf itu pun berakhir dengan sendirinya, dia pergi dan aku kembali sibuk mencari-cari Lia yang tak terlihat juga batang hidungnya. Sehingga aku pun berinisiatif pulang sendiri.
Saat aku berjalan di koridor sekolah aku pun bertemu lagi dengannya, dan sepertinya dia sedang menunggu seseorang disana. Dan aku pun mulai berjalan mendekatinya .
“hai, lo yang tadi yah ?”tanyanya.
“hemm ..iya, kenapa ?mau nabrak gue lagi?”jawabku jutek, padahal dalam hati ku aku gemetaran.
“hehe, ya engga lah, maaf ya yang tadi. Oh iya, lo pulang sama siapa ?”tanyanya kemudian.
“sendiri” jawabku singkat padat dan jelas, karena masih gugup.
“gue anter yuk” ajaknya kemudian.
Dan akhirnya aku pun pulang bareng dengannya, selama diperjalanan dia yang terus bertanya sedangkan aku hanya terus menjawab. Dia pun mengantarkan aku dengan selamat sampai rumah.
*
Semenjak ‘dia’ mengantarkan ku pulang, aku dan ‘dia’ pun menjadi dekat. Setiap hari aku pulang pergi ke sekolah di anter ‘dia’ seperti punya supir pribadi. Setelah beberapa minggu dekat dengannya suatu saat ‘dia’ mengajakku dinner. Dan pada saat itu juga aku baru mengetahuinya bahwa ‘dia’ menyukai Lia, sempat ingin loncat jantungku keluar dari dalam rongga tubuhku saat mendengar pernyataan itu keluar dari mulutnya. Entah aku harus berbicara apa lagi, aku seperti kehabisan kata-kata untuk berucap, setengah jiwaku aku menahan agar air mataku tidak keluar dari pelupuk mataku, meskipun mata ini sudah barkaca-kaca dan tak tahan aku ingin menumpahkan ini semua. Sejak saat itu aku menjadi terpuruk, dan menjauhi ‘dia’ dan Lia, sempat mereka bertanya-tanya padaku, ada apa sesungguhnya, namun mulut ini tak dapat berucap, dan entah apa yang harus terucap. Mataku hitam sembab, karena menangis semalam suntuk, sebenarnya untuk apa aku menangisi semua ini. Ini bukan salah siapa-siapa, bukan salah Lia ataupun ‘dia’. Cinta dan perasaan itu tidak bisa dipaksakan, toh kalau nanti jodoh juga akan bersatu. Kita akan merasa senang dan bahagia apabila melihat orang yang kita sayangi bahagia meskipun itu dengan yang lain dan bukan dengan kita.
Aku pun menceritakan semuanya kepada Lia, Lia pun sangat kaget ketika mengetahui yang sebenarnya apa yang terjadi denganku akhir-akhir ini. Dia sangat tak enak denganku, tetapi aku terus meyakinkannya tentang keadaan ku yang sekarang baik-baik saja, tak seperti kemarin-kemarin. Ternyata tanpa di sadari telah lama ‘dia’ menyukai Lia, dan ‘dia’ tak berani mengatakan langsung kepada Lia. Dan sekarang aku menjadi Mak Comblang nya Lia dengan ‘dia’. Sebenarnya nama asli ‘dia’ itu Tama, Tama itu putra tunggal anak pemilik sekolah ini.
Dan akhirnya Lia dan Tama pun jadian, mereka terlihat bahagia dan cocok, meskipun harus berulang-ulang kali aku menyakinkan Lia tentang keadaanku. Tersirat jelas di mata mereka kalau mereka bahagia. Begitu bahagianya aku melihat kedua orang yang aku sayangi bahagia.
*
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar